Dr. Amir Faishol Fath, Pakar Tafsir Al-Quran, Dai Nasional dan CEO Fath InstituteKisah takluknya kaum Yahudi Bani Nadhir dan dikeluarkannya dari kota Madinah adalah bukti kekuatan boikot. Ini direkam dalam surah Al Hasyr: 5. Bani Nadhir adalah salah satu kabilah Yahudi yang tinggal di sekitar Madinah dengan kekuatan benteng sebagai pelindungnya. Mereka semula telah melakukan perjanjian dengan damai dengan kaum Muslimin setelah hijrah Rasulullah saw. ke Madinah. Tetapi mereka melanggar perjanjian tersebut dengan bersekutu bersama kaum musyrikin Quraisy, bahkan mereka merencanakan untuk membunuh rasulullah saw. Pengkhianatan ini menyebabkan rasulullah saw. bersama kaum Muslimin mengepung perkampungan mereka. Kekuatan pintu benteng yang tidak bisa ditembus dengan kekuatan fisik tetap tidak mematikan semangat kaum Muslimin untuk menaklukkan kaum yahudi itu. Sampai akhirnya Allah mengizinkan RasulNya dan kaum Muslimin untuk melakukan boikot terhadap kekuatan ekonomi kaum yahudi. Caranya memusnahkan ladang-ladang pertanian mereka yang ada di luar benteng. Dengan cara boikot itulah kemudian kaum yahudi menyerah dan membuka pintu benteng mereka dalam keadaan penuh ketakutan. Allah berfirman: maa qatha’tum min liinatin aw taraktumuuhaa qaaimatan ‘alaa ushuulihaa fabiidznillahi wa liyukhziyal faasiqiin (apa yang kamu tebang di antara pohon kurma (milik yahudi Bani Nadhir) atau yang kamu biarkan berdiri di atas pokoknya, itu adalah dengan izin Allah sebab Dia ingin menghinakan orang-orang fasik (QS. Al Hasyr: 5). Allah menjelaskan pada surah Al Hasyr ayat :2, bahwa Allahlah yang mengeluarkan mereka dari benteng-benteng mereka (huwalladzii akhajalladziina kafaruu min ahlil kitaabi min diyaarihim li awwalil hasyr). Awalnya orang-orang beriman kurang yakin bisa membuka benteng, di saat yang sama orang-orang Yahudi sangat yakin bahwa bentengnya tidak akan bisa ditembus (maa zhanantum ay yakhrujuu wa zhannu annhum maani’atuhum hushuunuhum minallahi). Tetapi Allah mempunyai kehenda lain, bagiNya sangat mudah untuk mengalahkan suatu kaum sehebat apapun kekuatan meterialime yang ia bangun. Yaitu hanya dengan memerintahkan kaum Muslimin agar melakukan boikot ekonomi lalu dengannya Allah menumbuhkan rasa takut dalam diri kaum Yahudi itu, maka tanpa di sangka-sangka mereka angkat tangan dan berserah diri kepada kaum Muslimin (fa ataahumullahu min haitsu lam yahtasibuu wa qadzafa fii quluubihimur ru’b). Peristiwa tersebut menyebabkan kaum Yahudi merusak rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri, sebab mereka tidak ingin kekayaan mereka dinikmati kaum Muslimin. Maka setelah itu orang-orang Islam juga mereka merusakn rumah-rumah mereka untuk menunjukkan harga diri (izzah) bahwa mereka melakukan penaklukan bukan karena harta melainkan karena perintah Allah dan rasulNya (yukhribuuna buyuutahum bi aydiihim wa aydil mu’miniin). Di sini Allah memberikan isyarat agar orang-orang beriman sepanjang masa belajr dari keajdian tersebut cara menyikapi kaum yahudi yang selalu melanggar janji (fa’tabiruu yaa uil abshaar). Disebutkan bahwa kaum Yahudi itu membawa harta benda mereka dengan segala kemapuan yang paling maksimal, dengan membawa barang-barang tersebut di atas punggung unta. Sementara sisanya yang tidak bisa mereka membawanya dirusak dan dibiarkan di dalam rumah-rumah mereka yang sudah dihancurkan. Sisi lain pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa setiap pengkhianatan pasti Allah akan turunkan adzab bagi pelakunya di dunia maupun di akhirat. Azab yang Allah tetapkan atas kaum Yahudi tersebut adalah karena pengkhianatan mereka, di dunia mereka diusir dari kota Madinah lalu di akhirat kelak mereka pasti akan dimasukkan neraka (walaulaa an kataba ‘alaihimul jalaa’a la’adzdzabahum fid dunya, wa lahum fil akhirati ‘adzabun naari). Ketetapan ini sengaja Allah lakukan karena mereka dengan terang-terangan menantang Allah dan rasulNya ( dzaalika bi annahum syaaqullaha wa rasuulahu, wa man yusyaaqillaha fa innllaha syaddidul ‘iqaabi). Ini bukti bahwa setiap pengkhianatan akan menuai kehinaan. Bani Nadhir yang meresa kuat dengan bentengnya akhirnya terusir dengan hina.
