KEJUJURAN IMAN

Dr. Amir Faishol Fath, Pakar Tafsir Al-Quran, Dai Nasional dan CEO Fath InstituteDalam surah Ali Imran:102, ketika mengajak orang-orang beriman agar bertakwa, Allah menegaskan bahwa takwa tersebut bukan sekedar pencitraan atau pura-pura melainkan takwa yang sebenarnya (haqqa tuqaatihi). Maksudanya bahwa takwa yang menyelamatkan seorang hamba adalah takwa yang dibangun di atas kejujuran iman. Allah maha tahu isi hati hambaNya. Siapun tidak bisa berpura-pura denganNya. Semua harus menunjukkan kejujuran kepadaNya. BagiNya inilah yang paling menentukan selamat tidaknya seorang hamba. Boleh jadi seseorang secara lahiriah nampak salih, ahli baca Al-Quran sampai dikenal sebagai imam atau seorang qari. Tetapi karena ia melakukannya bukan karenaNya, maka ujungnya ia dimasukkan ke neraka. Juga boleh jadi seseorang ahli sedekah, tetapi karena ia melakukan amal tersebut karena ingin disebut sebagai dermawan, akhirnya ia dimasukkan neraka. Bahkan boleh jadi seseorang ahli jihad dengan berperang di jalan Allah sampai ia terbunuh. Tetapi karena niatnya bukan karena Allah, melainkan karena ingin dipuji sebagai pahalwan, akhirnya ia juga masuk neraka. Ketiga contoh ini dinarasikan oleh Abu Hurairah dari Rasulullah saw. dalam Riwayat Imam Muslim. Ini bukti bahwa kasalihan ritual tanpa dibarengi dengan kejujuran iman akan tertolak. Dalam sahih Bukhari, disebutkan kisah seorang yang membunuh Sembilan puluh Sembilan orang, lalu ia menyadari dosanya dan dengan jujur ia bertekad ingin bertaubat. Supaya tidak salah cara bertaubatnya, ia mencari seorang guru, lalu ditunjukkanlah jalan kepada ahli ibadah (fadulla a’alaa raahibin). Ketika ditanya apakah taubatnya masih bisa diterima oleh Allah?, rahib itu menjawab tidak mungkin. Karena dosa yang dilakukannya dianggap terlalu terlalu besar. Atas fatwanya yang salah tersebut ia harus menanggung resiko. Sang pembunh itu langsung membunuhnya sehinga lengkaplah korbannya seratus nyawa. Tetapi ia tidak berptus asa untuk mencari guru. Rasulullah saw. menceritakan bahwa akhirnya ia bertemu dengan seorang yang alim (fadulla ilaa ‘aalimin). Setelah diceritakan kasusnya, sang alim itu menjawab bahwa taubatnya masih diterima. Sang alim memberikan syarat agar ia meniggalkan kampungnya sebab itu tempat yang buruk dan pindah kepada kampung yang baik tempat orang-orang banyak beribadah (ukhruju minal qaryah alkahbiitsah allati anta fiiha ilal qaurayah ashshaalihah qaryatu kadza wa kadza fa’bud rabbaka fiihaa). Sang pembunuh benar-benar jujur dalam taubatnya. Persyaratan tersebut ia penuhi. Ia dengan sungguh-sungguh menuju kampung orang-orang salih. Di tengah jalan seketika ajal menjemputnya. Di sini terjadi rebutan antara malikat rahmat dan malaikat adzab (fakhtashamat fiihi malaaikur Rahmati wa malaaikuatl adzaab). Malaikat rahmat mengatakan bahwa ia sudah bertaubat dengan jujur dan sedang menuju kepada Allah (jaa a taaiban muqbilan biqalbihii ilallahi). Sementara malaikat adzab mengatakan bahwa ia baru bertaubat tetapi belum beramal kebaikan sama sekali (innahuu lama ya’mal khairan qaththu). Datanglah kemudian malaikat dalam bentuk manusia. Ia hadir untuk menjadi penengah antara kedua malaikat tersebut. Ia berkata agar diukur posisi meninggalnya sang pembunuh. Apakah ia lebih dekat ke kampung orang-orang buruk atau sebaliknya ia lebih dekat ke kampung orang-orang salih. Ke mana ia lebih dekat kepada merekalah ia digolongkan. Ternyata setelah diukur poisisi kematiannya lebih dekat kepada kampung orang-orang salih. Maka malaikat rahmatlah yang membawanya kepada golongan ahli surga. Dalam suatu Riwayat disebutkan : Allah mewahyukan kepada kampung orang-orang buruk agar menjauh dan kepada kampung orang-orang salih agar mendekat. Kemudian Allah berfirman: ukurlah jarak antara keduanya dari posisi mayit sang pembunuh. Di dapatkanlah bahwa kampung orang-orang salih lebih dekat kepada mayit tersebut. Dengan itu Allah memberikan ampunan kepadanya. Apa yang menarik dari kisah tersebut di atas, adalah: Pertama, kejujuran iman yang mengantarkan pembunuh tersebut untuk bertaubat telah menyebabkan Allah menerima taubatnya. Kedua, kesungguhannya untuk mencari guru yang alim telah menunjukkan kejujurannya untuk bertaubat, juga telah menjadi bukti bahwa ilmu yang benar dengan pemahaman yang lurus akan melahirkan prilaku yang benar. Ketiga, lingkungan dan persahabatan adalah factor yang paling menentukan seseorang untuk menjadi baik atau buruk. Dalam lingkungan yang baik seseorang akan terbantu untuk menjadi baik. Sebaliknya dalam lingkungan yang buruk seseorang akan mudah terseret kepada keburukan sehingga ia menjadi buruk.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *